Pemanfaatan Olap dalam Pengendalian Pencemaran dan Pengrusakan Lingkungan
LATAR BELAKANG dan MASALAH
Kualitas kesehatan lingkungan memberikan dampak yang sangat penting untuk kita perhatikan. Karena setiap harinya zat – zat yang tidak menyehatkan selalu lewat tanpa permisi di sekitar kita. Tidak hanya melalui udara saja, tetapi juga melalui tanah dan juga air. Tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit dan juga gangguan kesehatan yang sudah kita alami tersebut bukan karena keturunan, pola makan, dsb. Tetapi karena banyaknya racun yang masuk ke dalam tubuh kita. Bahkan ada racun yang masuk lewat pernafasan yang dapat menyebabkan pertumbuhan “Lovely Unborn Baby” bagi ibu hamil menjadi terganggu dan bias membuat anak – anak kecil tumpuan harpaan masa depan bangsa ini menjadi bodoh alias IQ rendah.
Tidak hanya lewat udara saja, tetapi masalah air yang setiap hari kita konsumsi pun juga masih menjadi problem utama di Negara – Negara maju, misalnya dalam pembangunan kawasan perkotaan, jalan raya dan lapangan terbang, konservasi kawasan lindung. Walaupun 95% dari air ini dikembalikan ke sungai, namun kualitasnya sudah tidak sama. Temperaturnya yang lebih tinggi mengurangi jumlah oksigen yang dapat larut sehingga kapasistas air sungan untuk mengasilmilasi bahan organic juga menurun. Kondisi seperti ini yang akan mendorong terjadinya degradaasi struktur rantai makanan yang selanjutnya akan mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air, dan mengganggu stabilitas ekosistem akuatik. Selain itu, persoalan lingkungan hidup juga disebabkan oaleh pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan populasi manusia yang semakin tinggi menyebabkan aktifitas ekonomi juga meningkat pesat. Kegiatan ekonomi/pembangunan yang semakin meningkat mengandung resiko pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup sehinggan struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi pendukung kehidupan menjadi rusak. Hal tersebut merupakan bebasn social yang pada akhirnya manusia pula yang akan menanggung biaya pemulihannya.
Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa kelestarian lingkungan sangatlah penting untuk kita perhatikan melihat dampak – dampak yang ditimbulkannya. Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran udara. Pencemaran tanah yang berasal dari limbah industry, dan juga limbah domestic seperti limbah pabrik tahu yang asam atau buangan dapur yang mengandung minyak/lemak bila secara terus menerus. Hal ini akan menyebabkan kerusakan struktur dan susunan kimiawi dalam tanah menjadi keras, dan produktifitas lahan pertanian pun akan menurun ditunjukkan dengan hasil panen yang semakin menurun dari tahun ke tahun.
Limbah rumah tangga menjadi pencemar air terbesar selain limbabh – limbah idustri, pertanian, dan bahan pencemar lainnya. Sehingga semakin besar populasi manusia, semakin tinggi tingkat pencemarannya. Limbah tesrsebut memiliki daya racun tinggi dan tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3). Yaitu adalah sisa obat, baterai bekas, air aki. Selain itu tinja, air cucian, limbah kamar mandi juga dapat mengandung bibit – bibit pentyakit atau pencemar bialogis (seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya. Sedangkan pencemaran udara dapat digolongkan menjadi 2 yaitu dari sumber bergerak dan sumber tidak bergerak. Pencemaran dari sumber bergerak misalnya disebabkan oleh emisi dari kendaraan bermotor, dan untuk tidak bergerak berasal dari asap dari sisa pembakaran pabrik. Debu dari pabrik dapat menimbulkan penyakit pneumoconiosis/sesak napas. Gas – gas emisi kendaraan bermotor dapat menyebabkan penipisan ozon. Dan gas – gas asam misalnya asalm sulfat,k asalm klorida dan asam nitrat dapat menimbulkan terjadinya hujan asam. Tentu saja hal itu sangatlah merugikan, mengganggu kehidupan kita, mengganggu kenyamanan, serta menambah penyakit yang diderita oleh manusia.
APA YANG HARUS DILAKUKAN ?
Untuk melakukan pengendalian pencemaran dan pengrusakan lingkungan, Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan bantuan teknologi yaitu dengan menggunakan OLAP untuk membantu memberikan solusi serta monitoring terhadap pencemaran dan pengrusakan lingkungan.
Business Intelligent (Intelejen Bisnis) menurut Edward David (2000) adalah suatu cara untuk mengumpulkan, menyimpan, mengorganisasikan, membentuk ulang, meringkas data serta menyediakan informasi, baik berupa data aktifitas bisnis internal perusahaan, maupun data aktifitas bisnis eksternal perusahaan termasuk aktifitas bisnis para pesaing yang mudah diakses serta dianalisis untuk berbagai kegiatan manajemen.
Salah satu Business Inteligent adalah teknologi dengan menggunakan OLAP (online analytical Processing). Dari olap tersebut badan pengelolaan lingkungan hidup dapat mengumpulkan informasi dan mengambil keputusan berdasarkan hasil analisa dari olap. Informasi yang diberikan pun akan diberikan secara tepat waktu, akurat dan reliabel melalui saluran komunikasi data, sehingga memudahkan pimpinan badan pengelolaan lingkungan hidup dalam proses pengambilan keputusan yang penting dan bersifat strategis, seperti tujuan jangka panjang untuk menghindari kegiatan pencemaran dan pengrusakan lingkungan.
MANFAAT YANG DIPEROLEH DENGAN MENGGUNAKAN OLAP
Dari informasi yang diberikan dengan menggunakan OLAP, badan pengelolaan lingkungan hidup dapat menentukan mana daerah atau tempat – tempat yang seharusnya diberikan perhatian yang lebih. Selain itu, badan pengelolaan lingkungan hidup dapat mengambil keputusan tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Apakah langkah yang akan dilakukan baik untuk menanggulangi pencemaran yang berlebihan maupun untuk mencegah pencemaran tersebut. Misalnya olap memberikan data dan menganalisis bahwa daerah X mengalami permasalahan pencemaran udara yang buruk. Permasalahan tersebut dikarenakan banyaknya cerobong yang ada di industry belum dilengkapi dengan lubang sampling dan sarana pendukung sampling. Dan tindakan yang akan dilakukan dianalisis menggunakan olap tersebut. Sehingga mempermudah badan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempercepat pengendalian permasalahan pencemaran.
Selain itu juga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, karena teknologi olap yang semakin tepat. Maka masalah pencemaran akan segera dapat teratasi dan juga kesehatan masyarakat pun dapat terjaga. Ketepatan informasi yang disediakan oleh olap juga disertai dengan data – data yang sudah terintegrasi dari banyak badan pengelolaan lingkungan hidup di setiap daerah di indonesia, sehingga akan lebih mudah memonitoring semua pencemaran yang ada di Indonesia. Perencanaan sumber daya, pengembangan lingkungan, dan juga rencana ke depan yang dapat dilakukan untuk peningkatan lingkungan yang lebih baik. Berikut ini merupakan contoh olap yang akan diberikan untuk pengendalian pencemaran lingkungan hidup. Misalnya pada pengendalian udara kendaraan bermotor. Olap memberikan dua pendekatan strategis yang dapat diterapkan yaitu :
a. Penurunan laju emisi pencemar dari setiap kendaraan untuk setiap kilometer jalan yang ditempuh.
b. Penurunan jumlah dan kerapatan total kendaraan di dalam suatu daerah tertentu.
Alternative yang diberikan oleh olap yang dapat diterapkan dalam kebijakan pengendalian pencemaran yang memiliki spectrum lebar meskipun belum mnecakup semua kemungkinan yang ada adalah sebagai berikut :
Perkiraan Penurunan Emisi dan Kebijakan Pengendalian
Waktu Pengendalian Emisi Perkiraan Reduksi Emisi (%)
Jangka Waktu (2-5 tahun) Inspeksi dan perawatan
Retrofit
Bahan Bakar
Teknik Pengaturan Lalu lintas 4-15
10-60
<15
<20
Jangka Menengah (5-10 tahun) Jalan – jalan bypass
Perbaikan angkutan umum
Perbatasan kendaraan <5
<5
5-25
Jangka Panjang Perubahan waktu kerja
Pembangunan/pengembangan
Perkotaan terencana/terkendali <3
-
-
Selain itu pemilihan strategi yang terbaik akan diberikan oleh olap sehingga dampak biaya ekonomi yang akan timbul adalah sekecil mungkin. Olap juga menampilkan Kota – kota di Indonesia yang memiliki identitas kepadatan tertinggi masing – masing dan juga terbutkti kota tersebut mampu meningkatkan aktivitas pencemaran udara. Misalnya seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Berikut ini contoh olap menampilkan keadaan efisiensi penumpang kendaraan bermotor di pusat kota Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Efisiensi Bahan Bakar dan Variabel Transportasi Penentu Emisi Pencemar Udara
Kota Kendaraan
(Juta PCU) Km Kendaraan
(Juta KMT/Hari) Efisiensi BBM
(Liter/Km) Efisiensi BBM
(Liter/Km)
Jakarta
Surabaya
Bandung 1.708
0.727
0.536 20.060
9.611
7.705 21.09
16.20
15.51 19.2
15.0
14.2
Dari data diatas dapat dilihat bahwa adanya penurunan yang signifikan yaktni masing – masing 3,28%, 2,7% dan 2,075% per tahun untuk Jakarta, Surabaya dan Bandung. Semakin banyak bahan bakar yang diperlukan untk kilometer yang ditempuh. Di ibukota Jakarta, angka efisiensi adalah yang terkecil. Berarti bahwa kendaraan bermotor dan pola pengemudi di Jakarta lebih buruk dibandingkan kedua kota lainnya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dengan teknologi OLAP, akan dapat membantu dalam pengelolaan dan pengendalian pencemaran dan pengrusakan lingkungan. Informasi yang diberikan dapat memberikan informasi – infromasi yang akurat untuk dapat diolah dianalisis sehingga menjad strategi – strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan pengendalian. Strategi – strategi tersebut sangatlah tepat dan akurat. Selain itu juga diberikan strategi untuk melakukan pengendalian lingkungan ke depannya. Sehingga pencemaran dan pengrusakan lingkungan dapat dicegah sebelumnya. Keputusan – keputusan yang diberikan juga membantu para pimpinan badan pengelolaan lingkungan hidup untuk memberikan keputusan terhadap pengendalian pencemaran lingkungan. Hal itu akan dapat memberikan kesehatan lingkungan serta kesehatan masyarakat di Indonesia. Saat ini sudah banyak bidang – bidang pemerintahan dan juga perusahaan – perusahaan yang sudah menggunakan dan mengimplementasikan teknologi OLAP dan juga teknologi business intelligent lainnya. Sehingga sangatlah penting teknologi ini untuk diterapkan dalam hal mengatasi permasalahan – permasalahan yang terjadi khususnya dalam hal pencemaran dan pengrusakan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
- M. Ilyas, “Mengatasi Emisi Melalui Perencanaan Sistem Transportasi Perkotaan dan Kebijakan Pengendaliannya”, Pengantar ke Falsafah Sains, published: May 2004
- Veloso, B. (n.d.). Kebijakan Pemerintah dan Masalah Pencemaran Udara. Retrieved from http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/rencana-program
- Wikipedia, Business Intelligent.
- Harmduzie. (n.d.). Pencemaran Perairan Akibat Limbah Industri. Retrieved from http://harmudzie-kim.blogspot.com/2009/05/pencemaran-perairan-akibat-limbah.html
- Yogyakarta, P. K. (n.d.). Strategi Pengendalian Pencemaran Lingkungan. Retrieved from http://hukum.jogjakota.go.id/?pilih=lihat&id=71
-
Archives
- August 2011 (1)
- July 2011 (1)
- June 2011 (2)
- May 2011 (2)
- June 2010 (1)
- October 2009 (2)
- June 2009 (1)
- January 2009 (2)
- December 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS